Hujan.. Sungguh aku senang sekali suasana hujan. Gemercik air yang turun dari langit sore itu benar-benar membuat hatiku nyaman. Setelah kepergiannya yang begitu membuat hatiku terluka, setelah sikapnya yang membuat hati ini begitu dingin (lebayy.. hahah).. kini ku tatap sore mendung itu begitu ramah.. Ya ramah kurasa. Dari kecil aku sangat senang dengan hujan dan selalu seperti itu, bahkan sampai detik ini mungkin hingga nanti, aku akan tetap menyukai hujan. Banyak sekali kisah yang tak dapat kuceritakan satu persatu. Tapi, kisah itu yang selalu bersangkutan dengan hujan. Kesedihan, kekecewaan, hingga kebahagiaan kudapati bersama hujan.
Sore itu, aku baru saja tiba dari sebuah kota yang begitu padat penduduknya. Ya penduduknya sangat padat, bahkan bisa kubilang terlalu padat. Aku tiba dikota yang begitu ramah, hangat, dan tenang suasananya. Kali ini aku tiba bukan dengan perasaan gembira, senang, maupun ceria. Tapi dengan wajah polos yang sedang menyembunyikan rasa takut dibalik wajah polos itu. Setelah sampai diterminal yang mulai sepi, aku jalan menyendiri dipinggiran trotoar. Aku mulai merasakan perasaan yang begitu kosong. AKu berharap ada seseorang yang menghampiriku. Dia.. dia yang kuharapkan. Aku hanya tersenyum kecut, arena itu tak mungkin terjadi. Gelap mulai menampakkan dirinya, tanda malam kan tiba. Tapi aku tetap berjalan melangkah, “sangat sepi disini” gumamku. Aku melangkah perlahan-lahan tak tentu arah. Aku kenal sekali dengan setiap sudut tempat ini. Tapi aku tetap merasa asing. Hujanpun turun. Disaat kebanyakan berlari gaduh mencari tempat untuk meneduh, aku hanya melirik mereka sambil meneruskan langkahku. Langkah? Langkah yang tak tentu arah. Orang-orang disebrang trotoar mendapatiku berjalan sendirian ditengah hujan. “Orang aneh!” ada yang mengatakanku seperti itu. Tapi aku hanya tersenyum kecut mendengar kalimat pujian itu. Sesaat aku terbangun dari lamunanku ditengah hujan. Aku, ditempat ini, tempat yang pernah aku kunjungi, tempat yang sama, suasana yang sama. “Aku sangat suka tempat ini, tapi dulu. Sekarang aku hanyalah kenangan bagi tempat ini. Maaf terbalik. Tempat ini hanyalah kenangan bagiku. Tidak lebih.” Aku berkata setengah berteriak pada diriku. Aku mulai menangis. Aku ingat, sangat ingat jelas, aku yang dulu seorang gadis yang dikenal periang, kini aku hanyalah seorang gadis pendiam. Aku memang dikenal gadis si pemurah senyum. Tapi mereka tidak tahu. Tidak tahu aku yang sebenarnya. Mereka hanya melihat bungkusan wajahku saja. Tapi mereka tak pernah melirik keadaanku. Tapi apa pantas aku menyalahkan mereka. Bukan mereka yang salah. Yang salah yaitu ada apa dengan diriku? Kenapa aku jadi begini? Kenapa harus serapuh ini? L. Aku harus mengadu pada siapa lagi. Semua orang menutup telinganya untukku. Mereka terlalu bosan mendengarkan keluhanku yang itu-itu saja. Tapi aku bisa apa?!!!
test :D
BalasHapusnice blog. salam kenal ya.
apaan ngomentnya begini doang -_-
BalasHapusantik...
BalasHapuskunjungi balik ya..
lanjutkan menulisnya...